Menyoal Kesemrawutan Lalu Lintas di Kota Medan

KEPALA Kepolisian Daerah (Kapolda) Sumatera Utara Irjen Pol Nanan Soekarna merasa prihatin melihat kondisi lalu lintas di kota Medan yang carut marut dan semrawutan. Keprihatinan Kapolda Sumut yang baru beberapa hari menjabat ini disampaikan dalam amanatnya saat serah terima jabatan Kapoltabes Medan di Lapangan Upacara Markas Poltabes Medan, Selasa (2/8) lalu.

Bagi masyarakat kota Medan atau sekitar kota Medan yang sehari-harinya berlalulintas di jalanan kota Medan, melihat pemandangan perlalulintasan di kota ini merupakan sebuah hal biasa. Setiap hari kita menyaksikan kendaraan bermotor baik roda dua maupun lebih dengan seenaknya melanggar rambu-rambu lalu lintas tanpa merasa bersalah sedikitpun. Yang lebih anehnya, terpancar kebanggaan apabila jika melanggar rambu-rambu lalu lintas dan tidak hebat (istilah Medan-nya) jika tidak melanggar rambu lalu lintas.

Kapatuhan atas rambu-rambu lalu lintas hanya terjadi apabila ada petugas polisi lalu lintas yang berdiri di traffic light. Jika tidak ada polisi lalu lintas meski ada petugas Dinas Perhubungan maka rambu lalu lintas dianggap tidak ada. Kondisi seperti ini bukan hanya terlihat di jalan-jalan tertentu saja, tetapi di hampir seluruh jalanan di kota ini. Kondisi semakin parah akan terlihat pada saat malam hari. Nyaris tidak ada traffic light yang dipatuhi dan pengendara sepeda motor yang menggunakan helm.

Rutinitas semacam ini sudah dianggap sebagai sebuah kewajaran bagi pengguna kendaraan di kota ini. Bahkan jika kita berusaha untuk tertib, misalnya dengan berhenti saat lampu merah menyala, maka kita tidak akan tepat waktu sampai di tujuan. Sebabnya, begitu lampu menyala hijau dan kita akan berjalan, maka kendaraan dari jalur lain yang seharusnya berhenti karena lampu merah akan tetap berjalan seperti biasa.

Kondisi seperti ini membuat jalanan di kota Medan menjadi semrawut dan akan macet total saat traffic light tidak berfungsi karena masing-masing mau menang sendiri tanpa ada yang mau mengalah. Bagi kita yang setiap hari menjalani rutinitas dengan keadaan seperti ini lama kelamaan akan menjadi biasa dan imun (kebal) terhadap kesemrawutan.

Namun bagi pendatang, seperti Kapoldasu Irjen Pol Nanan Soekarna yang baru menginjakkan kakinya di kota Medan, keadaan ini tentunya akan mendatangkan stres. Bagaimana tidak, meski di kota lain seperti Jakarta yang sebenarnya tingkat kemacetannya lebih tinggi, namun lalu lintasnya lebih tertib. Di Jakarta atau kota lainnya, kemacetan itu lebih disebabkan oleh banyaknya kendaraan yang beroperasi. Meski macet para pengguna kendaraan tetap tertib di jalurnya masing-masing. Tapi di Medan perhatikan, trotoarpun akan dilewati tidak hanya oleh pengendara kendaraan roda dua tapi juga oleh kendaraan roda empat terutama angkutan kota, selagi memang masih bisa dilalui.

Berhenti untuk menaikkan dan menurunkan penumpang di badan jalan merupakan pemandangan yang biasa. Belum lagi jalan yang ditutup akibat aktivitas pesta, hiburan dan sebagainya, yang ijinnya tidak jelas diperoleh dari mana. Padahal sebenarnya kalau mau jujur jalan itu masih bisa digunakan sebagian bagi pengguna jalan. Tapi itulah salah satu tipikal warga kota ini yang merasa bangga atau ada kebanggaan tersendiri apabila bisa menutup jalan untuk kepentingan pribadinya.

Inilah menjadi salah satu hal yang harus dituntaskan Kapolda Irjen Pol Nanan Soekarna selama bertugas di daerah ini di samping persoalan lain yang telah diagendakan seperti, premanisme, KKN dan lainnya. Mengapa persoalan lalu lintas menjadi penting? Sebab lalu lintas merupakan urat nadi sebuah kota. Tanpa kita sadari banyak kerugian yang harus kita korbankan akibat “berlama-lama” di jalanan. Selain rugi bahan bakar sudah pasti, kita juga rugi waktu dan yang paling parah dan ini sulit diukur, “rugi perasaan”.

Namun ini semua, seperti yang juga telah dikatakan Kapolda tidak bisa diselesaikan tanpa dukungan masyarakat. Tapi masyarakat kota ini “lain” dengan masyarakat kota lainnya sehingga penanganan yang dilakukanpun harus “lain”, toleransi boleh-boleh saja namun tetap ada batasnya. Penegakan aturan yang paling utama. Siapa yang melanggar aturan harus beri sanksi yang tegas tanpa pandang bulu. Hanya dengan cara seperti ini lalu lintas di kota ini baru bisa ditertibkan.**** 

 

Sumber : www.analisadaily.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: